Pondok Mayak Kembangkan Aswaja an-Nahdliyah

Penyerahan Kenang Kenangan dari Panitia Kepada Pemateri Dr.Luthfi Hadi Aminuddin,M.Ag, Sek. Tanfidziah PCNU Ponorogo
Penyerahan Kenang Kenangan dari Panitia Kepada Pemateri Dr.Luthfi Hadi Aminuddin,M.Ag, Sek. Tanfidziah PCNU Ponorogo

Wawasan ahlussunnah wal jamaah (aswaja) untuk santri Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Darul Huda dianggap masih perlu pengayaan. Selama ini di pesantren yang akrab disebut Pondok Mayak ini telah rutin diadakan pengajian kitab hujjah ahlussunah wal jamaah karya Kiai Ali Maksum. Wawasan aswaja yang aplikatif dipandang pengurus setempat perlu diberikan kepada santri agar mereka memiliki pemahaman yang kontekstual. Dipilihlah program diklat aswaja yang diadaakan setiap tahun secara rutin.

“Kegiatan ini dinamakan diklat aswaja, diadakan setiap 1 tahun sekali untuk santri tingkat takhasus. Pada intinya diklat ini bertujuan untuk memperdalam wawasan ke NU an/keaswajaan,” kata Muslihun Ketua Pengurus Pondok Mayak.

Tahun ini diklat aswaja kembali diselenggarakan pengurus Pondok Mayak pada hari Senin (28/9) bertempat di aula utama. Peserta terdiri dari santri takhasus tingkat satu dan dua sebanyak 250 peserta.
Takhassus kelas 1 dan kelas 2 ini tingkatan paling atas setelah lulus madrasah diniah 6 tahun. Rata-rata mereka juga bersatus sebagai mahasiswa di beberapa perguruan tinggi di Ponorogo.

Pengurus menghadirkan Dr. H. Lutfi Hadi Aminudin, M.Ag sebagai narasumber utama. Materi yang diberikan mencakup konsep aswaja dan relasi NU dengan aswaja, serta ‘ubudiyah NU.

“Saya jelaskan bahwa ada tiga motivasi para muassis mendirikan NU, yaitu motif nasionalisme, motif pelestarian aswaja dan motif menjaga sanad ilmuan melalui pesantren-pesantren,” ungkap pria yang juga alumni Pondok Mayak periode 1988-1994 ini. Pak Lutfi, panggilan akrabnya bahkan pernah mengabdi menjadi tenaga pengajar di Madin Miftahu Huda Pondok Mayak sejak 1994 hingga 1999. Kini sehari-hari selain sebagai Dosen dan Dekan FEBI IAIN Ponorogo, Pak Lutfi mengabdikan diri di PCNU Ponorogo sebagai Sekretaris.

Pak Lutfi menambahkan, para santri takhassus butuh pemahaman pentingnya kehadiran NU dan keterlibatan mereka di dalamnya untuk mengembangkan nasionalisme. Ia perlu menyampaikan kepada peserta bahwa ketika KH. Wahab Hasbullah ditanya kiai Halim Jawa Tengah, “mengapa kiai mau mendirikan NU padahal Indonesia belum merdeka,” Jawab kiai Wahab Hasbullah, “justru itu, karena indonesia belum meredeka NU harus segera didirikan, demi untuk memperjuangkan kemerdekaan negeri ini.”

Motif pelestarian aswaja di mata Pak Lutfi dicantumkan pada materi diklat karena menurutnya, saat menjelang kelahiran NU, amalan an-nahdliyyah mulai terancam dengan lahirnya kerajaan Saudi yang mengusung ideologi wahabi. Tak kalah pentingnya, diklat aswaja ini diorientasikan pada upgrading para santri tentang perkembangan dan tantangan aswaja terkini.

Untuk materi ubudiyah, Pak Lutfi lebih banyak memberikan penjelasan seputar tabarruk, istighosah, tawassul dan tradisi-tradisi NU yang selama dipermasalahkan kelompok salafi/kanan/radikal

“Saya sampaikan juga kepada para peserta, bahwa santri punya tanggung jawab untuk menjaga, melestarikan dan membela ubudiyah NU,” kata Pak Lutfi.

Diklat aswaja akan terus dikembangkan sebagai bentuk pengayaan pemahaman para santri mengenai aswaja dan ke-NU-an. (idm)

Silahkan share:
  TwitterFacebookWhatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *