
NU Online Ponorogo – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Babadan menggelar Ijazah Kubro di Masjid Kyai Ageng Imam Puro Sukosari, Babadan, Minggu (25/10) malam. Agenda akbar bertajuk “Solusi Kaya Lewat Jalur Langit” ini menjadi puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 dan menyedot antusiasme tinggi dengan dihadiri sekitar 2.000 jamaah yang memadati serambi hingga pelataran masjid.
Ijazah Kubro ini memuncaki rentetan semarak Hari Santri yang dihelat MWCNU Babadan sejak pertengahan Oktober. Rangkaian tersebut diawali Ziarah Muassis Babadan pada 16 Oktober, Apel Peringatan HSN pada 21 Oktober, Senam Mustika Muslimat pada 24 Oktober, serta Sima’an Al-Qur’an pada 25 Oktober pagi.

Rangkaian majelis ijazah dimulai selepas magrib dengan salat berjamaah, dilanjutkan istigasah, salat isya, serta prosesi penyerahan ijazah kubro untuk amalan tahlil, zikir, dan salat hajat. Bertindak selaku mu’jiz, yakni Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A., serta Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri KH. Abdullah Kafabihi Mahrus.
Penyelenggaraan kegiatan ini merupakan hasil kerja sama erat MWCNU Babadan bersama Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Wilayah Eks Keresidenan Madiun, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Ponorogo, pengurus takmir Masjid Kyai Ageng Imam Puro, serta seluruh pengurus ranting dan badan otonom NU se-Kecamatan Babadan.

Ketua Tanfidziyah MWCNU Babadan, Kyai Moh. Sumadi, S.Pd.I., saat membuka kegiatan menyampaikan ucapan selamat datang sekaligus apresiasi dan terima kasih mendalam kepada seluruh pihak yang telah bahu-membahu menyukseskan perhelatan akbar ini. Menurutnya, tanpa kerja sama dan dukungan semua pihak, acara tidak akan dapat terlaksana dengan baik.
Lebih lanjut, Kyai Sumadi menegaskan esensi pentingnya ketersambungan sanad bagi warga Nahdliyin.
“Ijazah ini mengandung maksud bahwa dalam berilmu kita harus mempunyai sanad dan guru yang jelas. MWCNU Babadan mengadakan majelis ini agar para imam dan warga NU memiliki sanad yang jelas dan muttashil dalam mengamalkan tahlil, zikir, maupun salat hajat,” terang Kyai Sumadi.
Melalui kegiatan ini, ribuan jamaah yang hadir diharapkan kian mantap mengamalkan tradisi ibadah Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah dengan sanad keilmuan yang bersambung langsung kepada para masayikh sepuh pesantren.
Kontriibutor : M. Latif Nahrowi (sekretais Mwc Nu Babadan)