Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PONOROGO mengimbau kepada Nahdliyin untuk senantiasa Menjaga Kesehatan, Mematuhi Instruksi, Himbauan, dan Protokol yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, termasuk tidak keluar rumah dan jaga jarak aman (Physical Distancing) agar tercapai kemaslahatan bersama, serta Memperbanyak Doa dan Amaliyah sebagaimana instruksi PBNU serta memohon pertolongan kepada Allah SWT semoga pandemi Covid-19 bisa diatasi dengan segera

NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Rais PCNU Ponorogo : Puji-pujian Aqaid Seket Harus Dihidupkan Lagi

Gus Hanif ngaji kitab Risalah Aswaja dalam Lailatul Ijtima’ PCNU Ponorogo, Jum’at (4/12).

NU Online Ponorogo – Rais PCNU Ponorogo KH. M. Sholihan Al-Hafidz mengimbau kepada warga NU untuk menghidupkan kembali puji-pujian aqaid seket di masjid dan mushola. Sebab, aqaid seket merupakan konsep akidah yang menjadi pondasi bagi pengikut Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Aqaid seket harus digalakkan lagi di masjid dan mushola NU. Termasuk TPQ dan madrasah. Malah kalau bisa masuk kurikulumnya Ma’arif itu,” kata Kyai Sholihan di sela acara rutinan Lailatul Ijtima’ yang digelar di Aula Kantor PCNU, Jum’at (4/12).

Imbauan untuk menghidupkan kembali puji-pujian aqaid seket tersebut menanggapi semakin maraknya narasi keislaman yang tidak sejalan dengan ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah. Seperti disampaikan Sekretaris Lembaga Dakwah NU (LDNU) PCNU Ponorogo Noor Abidin. “Konsep Tauhid Trinitas itu sekarang banyak kita jumpai di mana-mana. Bahkan masuk ke dalam LKS (Lembar Kerja Siswa, Red) di sekolah-sekolah,” ungkapnya.

Tauhid Trinitas, kata Abidin, adalah konsep yang membagi Tauhid menjadi 3 bagian. Yakni Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Asma Wa Shifat. Tauhid Trinitas ini belakangan banyak beredar baik melalui ceramah, artikel, pesan berantai, bahkan di buku sekolah. “Ini kan bukan konsep akidahnya Ahlussunnah Wal Jama’ah, Karena akidah kita merujuk pada Abu Manshur al-Maturidi dan Abu al-Hasan as-Asy’ari,” tegasnya.

Untuk diketahui, PCNU Ponorogo mengadakan LI setiap malam Sabtu Kliwon. Acara LI diisi dengan Ngaji Kitab Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah karya Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Malam itu, giliran Kyai Hanif Abdul Ghofir Ma’ruf yang membacakan kitab. Turut hadir KH. Muhtar Sunarto, Kyai Fauzi Romadhon, KH. Sholihin, Gus Muqorrobin, Drs. H. Fatchul Aziz MA, Kyai Badrus Sholeh, serta jajaran pengurus PCNU lainnya.

Setelah membacakan kitab, seperti biasa, acara dilanjut diskusi santai. Tema diskusi merujuk pada pandangan Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang tertuang dalam kitab yang baru saja dibacakan. Malam itu, diskusi berlangsung cukup seru karena temanya adalah ittihad, hulul dan wahdatul wujud.

 

Reporter : Lege

Editor : Lege

Informasi terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *