Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PONOROGO mengimbau kepada Nahdliyin untuk senantiasa Menjaga Kesehatan, Mematuhi Instruksi, Himbauan, dan Protokol yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, termasuk tidak keluar rumah dan jaga jarak aman (Physical Distancing) agar tercapai kemaslahatan bersama, serta Memperbanyak Doa dan Amaliyah sebagaimana instruksi PBNU serta memohon pertolongan kepada Allah SWT semoga pandemi Covid-19 bisa diatasi dengan segera

NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Wayang Hor Lesbumi Siap Tampil

NU Online Ponorogo – Setelah sempat terhenti selama masa Pandemi Covid-19, para pegiat seni yang terhimpun dalam Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Ponorogo kini mulai bergeliat. Jiwa seni yang mengalir dalam diri mendorong para pegiat seni Lesbumi untuk kembali berkarya. “Sejak bulan Nopember ini, mereka (pegiat seni Lesbumi, Red) sudah mulai beraktivitas kembali di bidang seni,” kata Ahmad Sauji, Ketua Lesbumi PCNU Ponorogo.

Ahmad Sauji yang akrab disapa Jinggo ini mengakui, sejak adanya Pandemi Covid-19, para pegiat seni di Lesbumi sempat menghentikan aktifitasnya. Keputusan ini karena mengikuti arahan NU demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19. “Ketika NU mulai mengkampanyekan The New Normal Life, ya Lesbumi juga ikut. Teman-teman seniman mulai bergerak lagi,” tandas seniman berambut gondrong ini.

Minggu (22/11) kemarin, beberapa pegiat seni Lesbumi mulai menggelar latihan. Mereka sedang mempersiapkan Wayang Hor yang rencananya akan dipentaskan Sabtu (28/11) mendatang. “Karena sanggar seni Lesbumi yang direncanakan bertempat di gedung PCNU yang baru masih belum selesai dibangun, kita pinjam tempat untuk latihan di Rumah Musik Lentera (di kecamatan Pulung, Red),” ungkap Jinggo.

Jinggo menjelaskan, Wayang Hor adalah karya asli pegiat seni Lesbumi. Wayang Hor adalah wayang kulit yang dimainkan dari balik layar. Penonton hanya melihat bayangan dari wayang yang dimainkan dalang. Wayang ini melibatkan 8 personil. Terdiri dari 4 orang sebagai pemain musik, 1 orang vokalis dan 3 orang sisanya memainkan wayang. “Menikmati Wayang Hor ini harus dengan penghayatan rasa. Makanya disebut hor atau hangudi obahing roso,” terang Jinggo kepada NU Online Ponorogo.

Jika wayang kulit biasa diiringi gamelan, kata Jinggo, Wayang Hor tidak. Wayang Hor diiringi alat musik modern seperti keyboard, gitar dan kendang. Durasinya pun berbeda. Wayang Hor berdurasi singkat. “Meskipun ceritanya singkat, tapi ada pesan-pesan moral yang mendalam yang mau kita sampaikan kepada penonton,” tutur Sauji.

Saat ditanya cerita singkat yang akan diangkat dalam pentas nanti, Jinggo hanya tersenyum. “Yang jelas, ada pesan moral untuk pilkada damai. Judulnya Bagong Magang Lurah,” pungkasnya.

 

Reporter : Idam

Editor : Lege

Informasi terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *