Fingerpaint, Unggulan MI Ma’arif 1 Babadan

Marsono,wakil ketua kaderisasi PAC GP Ansor Jenangan Menunjukkan Hasil Karya Fingerpaint
Marsono,wakil ketua kaderisasi PAC GP Ansor Jenangan

NUonline Ponorogo – Wakil Ketua Kaderisasi Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Kecamatan, Jenangan, Kabupaten Ponorogo, Marsono seolah tak henti untuk berkhidmat kepada masyarakat. Kali ini, dibidang pendidikan Marsono bekerjasama dengan MS KINDS cetuskan fingerpaint di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’arif 1 Babadan (MIMASBA) Ponorogo dengan progam berbasis alam, pesantren, informasi teknologi (IT) dan Inklusi. Dalam hal ini karya seni lukis fingerpaint menjadi salah satu unggulan di MIMASABA.

Marsono Nahkoda MIMASBA mengatakan MI besutan para sahabat dan dirinya itu adalah terobosan baru ditengah tantangan pendidikan yang mulai sangat dinamis dan komplek. Sehingga program pendidikan pun harus dipadukan agar tidak kehilangan tujuan utama dari LP Ma’arif.

“MI MA’ARIF 1 BABADAN atau yang sering di sebut MIMASBA adalah madrasah ibtidaiyah baru, hal ini adalah jawaban atas tantangan dunia pendidikan yang makin komplek dan tututan orang tua yang anaknya sudah memiliki skill dan kemerdekaan dalam belajar sesuai bakat dan minat anak,” kata Marsono, Senin (13/10/2020).

MIMASBA Menunjukkan Hasil Karya Fingerpaint
MIMASBA Menunjukkan Hasil Karya Fingerpaint

Uson sapaan akrab ketua Kelompok Dasa Wisma ( Pokdarwis ) Sri Sentono, Desa Plalangan, Kecamatan Jenangan yang sukses bersama timnya angkat Wage dan pasar Minggon, mengungkap MIMASBA menawarkan sekolah berbasis alam,berbasis pesantren, berbasis IT dan berbasis Inklusi. Dengan maksud berbasis alam tentunya mengajar peserta didik untuk menjadi pribadi yang mencinta alamnya, agar turut menjaga dan melestarikan nya.

“Ada pembelajaran PLH mas , sehingga anak di ajak berkreasi,salah satunya pembelajaran Fingerpaint yang kita lakukan,” jelasnya.

Uson menyampaikan, tujuan dari program ini adalah agar siswa dibebaskan dalam berkreasi apa pun itu, apa yang ingin di tuangkan dalam lukisan sebebas-bebasnya.

“Selama ini anak terkekang dengan pembelajaran daring, sehingga anak perlu media untuk menuangkan segala unek-uneknya,” paparnya.

Uson menambahkan tercapainya program tersebut pihaknya berkerja sama dengan tim alhi / psikolog dari MS KINDS yaitu lembaga non formal yang memang mendampingi tumbuh kembang anak.

“Sehingga apapun kegiatan santri akan terarah dan tentu dalam sebuah kegiatan santri malah terbebani dengan beban yang memang tidak perlu,” pungkasnya. ( dam)

Reporter : Idam
Editor. : Budi

Silahkan share:
  TwitterFacebookWhatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *