NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Halal Bi Halal GP Ansor-Fatayat NU Tanjungsari: Kyai Syafi’i Anjurkan Teori Arus Balik

Jajaran PRNU dan Banom NU Tanjungsari berpose bersama usai pencanangan papan nama Keluarga Besar NU
Jajaran PRNU dan Banom NU Tanjungsari berpose bersama usai pencanangan papan nama Keluarga Besar NU

NU Online Ponorogo – Suasana idul fitri di Indonesia belum lengkap jika belum dihiasi halal bi halal. Halal bi halal lazim digelar berbagai instansi, baik pemerintah maupun swasta, lembaga pendidikan dan organisasi kemasyarakatan. Meskipun halal bi halal termasuk kearifan lokal masyarakat muslim di Indonesia, namun pada hakikat pernah dicontohkan Nabi SAW.

Menurut K. Ahmad Syafi’i SJ, M.S.I Wakil Rais PCNU Ponorogo istilah halal bi halal memang tidak akan pernah dijumpai di Alquran dan hadits. Kyai Syafi’i mengungkapkan hal ini saat tampil memberikan tausiyah pada acara halal bihalal Keluarga Besar GP Ansor dan Fatayat NU Tanjungsari di Madrasah Diniyah Miftahul Ulum, Ahad (23/5).

Salam bahasa agama Islam, lanjut Kyai Syafi’i, halal bi halal dimaksudkan sebagai istihlal atau upaya untuk mendapatkan kehalalan dan istibra’ atau upaya supaya terlepas dari tanggungan.

“Istilah ini (istihlal dan istibra’, Red) dikawinkan dengan kearifan lokal menjadi halal bi halal. Bungkus halal bi halal adalah budaya tapi isinya pesan Islami,” tandas Kyai Syafi’i.

Untuk memperkuat argumennya, Kyai Syafi’i mengetengahkan firman Allah pada surah An-Nur ayat 22. “Inti dari ayat ini adalah perintah Allah kepada umat manusia untuk saling memaafkan,” terang Kyai Syafi’i.

K. Ahmad Syafi'i SJ, M.S.I Wakil Rais PCNU Ponorogo memberikan tausiyah halal bi halal
K. Ahmad Syafi’i SJ, M.S.I Wakil Rais PCNU Ponorogo memberikan tausiyah halal bi halalprnu

Kyai Syafi’i menghubungan tradisi halal bi halal dengan makna ketupat. Dalam konsep Jawa, sebut Kyai Syafi’i, kupat (bahasa Jawa: Ketupat) berarti “kabeh pada ngaku lepat” (semua mengakui kesalahannya, Red).

Untuk dapat mengakui kesalahannya, saran Kyai Syafi’i, setiap muslim perlu mengikuti teori arus balik yang dicanangkan Imam Muhammad al-Busyiri.

“Keinginan lihat TV dilawan dengan ngaji, keinginan rasan-rasan dilawan wiridan. Intinya harus memaksakan diri untuk melakukan kebaikan. Maka Syawal akan melahirkan manusia suci,” tegas Kyai Syafi’i.

Sementara acara halal bihalal, selain dihiasi sambutan ketua PR GP Ansor Fitra Rijal mewakili panitia dan Ketua PRNU KH. Musta’in juga dimeriahkan group hadrah Remaja Masjid setempat. Turut hadir Kepala Desa, para pengurus PRNU dan Banom NU Tanjungsari. Nampak hadir pula Ketua PC GP Ansor Ponorogo Syamsul Ma’arif dan Kasatkorcab Banser Sudarsono. Para pengurus PR IPNU dan IPPNU Tanjungsari juga terlibat aktif membantu kepanitiaan.

Usai acara halal bi halal, Kyai Syafii bersama Mustasyar PRNU KH. Imam Mahfudz dan Ketua PRNU KH. Musta’in meresmikan pemancangan papan nama Keluarga Besar NU Ranting Tanjungsari. Acara dimulai doa oleh KH. Imam Mahfudz dilanjutkan pelepasan tirai pada papan nama dan diakhiri poto bersama.

Reporter: Idam
Idam : Budi

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PONOROGO mengimbau kepada Nahdliyin untuk senantiasa Menjaga Kesehatan, Mematuhi Instruksi, Himbauan, dan Protokol yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, termasuk tidak keluar rumah dan jaga jarak aman (Physical Distancing) agar tercapai kemaslahatan bersama, serta Memperbanyak Doa dan Amaliyah sebagaimana instruksi PBNU serta memohon pertolongan kepada Allah SWT semoga pandemi Covid-19 bisa diatasi dengan segera