Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PONOROGO mengimbau kepada Nahdliyin untuk senantiasa Menjaga Kesehatan, Mematuhi Instruksi, Himbauan, dan Protokol yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, termasuk tidak keluar rumah dan jaga jarak aman (Physical Distancing) agar tercapai kemaslahatan bersama, serta Memperbanyak Doa dan Amaliyah sebagaimana instruksi PBNU serta memohon pertolongan kepada Allah SWT semoga pandemi Covid-19 bisa diatasi dengan segera

NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Hari Peduli Sampah Nasional Yang Terlupakan

Foto Hariyanto, praktisi peduli sampah di TPST
Foto Hariyanto, praktisi peduli sampah di TPST

Ponorogo NU Online – Tidak banyak orang yang tahu sejarah Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Padahal penetapan HPSN memiliki latar belakang sejarah yang kelam. Hariyanto, pengelola Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Tonatan mengungkapkan sejarah kelam itu.

Hariyanto yang saat ini aktif menjadi wakil ketua LPBI NU Ponorogo menuturkan, sejarah kelam dunia sampah berawal dari peristiwa kerja di TPA Leuwigajah Cimahi Jawa Barat pada 21 Pebruari 2005.

“Saat itu 157 nyawa melayang akibat tertimbun sampah saat hujan deras dan gas metana menguap,” tuturnya kepada NU online Ponorogo.

Setahun kemudian, lanjutnya, para praktisi lingkungan dan berbagai kalangan mengusulkan tanggal tersebut di peringati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional.

HPSN seharusnya mengingatkan semua pihak, betapa pentingnya pengelolaan sampah dengan baik.

“Sampah menjadi problem lingkungan yang serius jika tidak dikelola dengan baik,” tegas Haryanto.

Ia menambahkan, gas metana yang menjadikan rumah kaca dan sampah sebagai bagian dari penyebab banjir, pencemaran udara, air dan tanah. HPSN di matanya adalah momen untuk merenung dengan belajar sejarah masa lalu dan menatap masa depan agar kecelakaan kerja di TPA tidak terulang lagi.

“Sampah harus di kelola dengan baik. Sejak di rumah sudah harus dipilah,” pesan Haryanto.

Di akhir perbincangannya dengan NU online Ponorogo Haryanto mengingatkan fatwa PBNU yang mengharamkan sampah yang dibuang sembarangan.

“Kita sebagai warga Nahdliyyin sudah sepantasnya mengawal hasil musyawarah para Ulama NU,” pungkasnya. (Idam)

Reporter: Idam
Editor : Budi

Informasi terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *