Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PONOROGO mengimbau kepada Nahdliyin untuk senantiasa Menjaga Kesehatan, Mematuhi Instruksi, Himbauan, dan Protokol yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, termasuk tidak keluar rumah dan jaga jarak aman (Physical Distancing) agar tercapai kemaslahatan bersama, serta Memperbanyak Doa dan Amaliyah sebagaimana instruksi PBNU serta memohon pertolongan kepada Allah SWT semoga pandemi Covid-19 bisa diatasi dengan segera

NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

PCNU Instruksikan Kader NU Beli Buku Ini

NU Online Ponorogo – PCNU Ponorogo menginstruksikan kepada kader-kader NU untuk membeli buku yang ditulis tim Litbang. Instruksi yang tertuang dalam surat bernomor 201/PC/L-19/III/2021 tertanggal 2 Maret 2021 tersebut ditandatangani pimpinan PCNU Ponorogo. Yakni Rais KH. Mohammad Sholihan Al-Hafidz, Katib K. M. Romadlon Fauzi, Ketua Drs. H. Fatchul Aziz MA, dan Sekretaris Dr. H. Luthfi Hadi Aminuddin M.Ag.

“PCNU Ponorogo menginstuksikan kepada Ketua MWCNU, Kepala Sekolah / Madrasah Ma’arif NU, Anggota Pergunu dan Kader Penggerak NU se-Ponorogo untuk berpartisipasi membeli buku Jejak Sejarah NU Ponorogo,” begitu bunyi surat instruksinya.

Berdasarkan surat instruksi itu, masing-masing MWC se-Ponorogo diwajibkan membeli minimal 4 eksemplar untuk bahan bacaan pengurusnya. Untuk SD/MI Ma’arif 2 eksemplar per lembaga, SMP/MTs Ma’arif 3 eksemplar per lembaga, dan SMA/SMK/MA Ma’arif 4 eksemplar per lembaga. Khusus anggota Pergunu dan Kader Penggerak alumni PKP-NU, masing-masing juga diwajibkan membeli buku yang diterbitkan LTN NU Ponorogo ini.

Ketua PCNU Ponorogo, Drs. H. Fatchul Aziz MA, membenarkan keluarnya instruksi tersebut. “Kami berharap pengurus cabang, pengurus MWC, pengurus ranting, bahkan pengurus anak ranting, serta seluruh perangkat NU, membeli dan membaca buku ini,” katanya.

Buku setebal 576 halaman itu ditulis oleh tim khusus yang dikomandani Krisdianto S.Pd, bersama sejumlah peneliti muda di bawah bimbingan Litbang PCNU Ponorogo. Dua tokoh besar NU turut memberikan catatan dalam buku ini. Keduanya adalah Rais Aam PBNU KH. Miftachul Ahyar dan Ketua PWNU Jatim KH. Marzuki Mustamar.

Buku ini telah melalui proses panjang yang cukup lama. Menurut Fatchul Aziz, tim penulis buku ini pertama kali dibentuk tahun 1979. Pembentukan tim dilakukan hingga 4 kali. Tim 1-3 hanya sampai pada pengggalian bahan. Di bawah komando tim ke-4 inilah penulisan buku bisa diselesaikan dan diterbitkan. “Karena itu, atas nama PCNU Ponorogo, kami sampaikan terima kasih kepada Mas Krisdianto dan tim yang dengan gigih selama kurang lebih dua tahun telah mampu menyelesaikan buku ini,” tegasnya.

Apresiasi positif juga disampaikan Sekretaris PCNU Ponorogo, Dr. H. Luthfi Hadi Aminuddin M.Ag, kepada Litbang PCNU, khususnya tim penulis. Menurutnya, buku ini sangat manfaat. Selain mengungkap sisi historisitas kehadiran NU di Ponorogo, buku ini juga menghadirkan geneologi serta sanad keilmuan antara pengurus-pengurus NU di awal pendirian dengan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Buku ini juga memotret dengan baik kiprah PCNU dari masa ke masa, sejak awal pendirian hingga tahun 2015.

“Buku ini juga bisa dijadikan sebagai referensi bagi para guru di bawah lingkungan Ma’arif, serta ustadz-ustadz di RMI, terkait bagaimana menyampaikan kepada siswa tentang NU di Ponorogo. Karena selama ini, sejarah NU yang diajarkan lebih bersifat umum. Belum menyentuh lokalitas kesejarahan NU di Ponorogo,” tandas Lutfhi.

Sementara itu, Krisdianto mengaku sangat lega bisa menyelesaikan tugas dan tanggungjawab yang dibebankan kepada timnya. “Bagi kami, yang penting buku ini bisa terbit. Itu sudah luar biasa buat kami sebagai tim. Selebihnya, kami serahkan kepada publik. Jika ada tanggapan, kritik atau tambahan data, kami sangat terbuka. Tidak menutup kemungkinan nanti akan ada cetakan kedua untuk lebih menyempurnakan,” tutur Krisdianto yang juga pegiat sejarah di Ponorogo.

Fatchul Aziz dan Luthfi Hadi Aminuddin sama-sama mengharapkan, penerbitan buku ini bisa menstimulus tradisi literasi di Ponorogo. Khususnya di kalangan nahdliyin. Ke depan, diharapkan bisa bermunculan penulis-penulis muda yang menuliskan tentang sejarah kiai kampung di masing-masing daerahnya.

Dokumen Syahadah PCNU Ponorogo

Sekedar informasi, PCNU Ponorogo merupakan salah satu cabang NU tertua di Indonesia. Menurut dokumen Syahadah, PCNU Ponorogo didirikan 4 tahun setelah lahirnya NU tahun 1926. Tepatnya pada tanggal 11 Maret 1930. Dan, PCNU Ponorogo merupakan cabang ketujuh yang diresmikan langsung oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

 

Reporter/Editor : Lege

NB : Info pemesanan, klik di sini

Informasi terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *