Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PONOROGO mengimbau kepada Nahdliyin untuk senantiasa Menjaga Kesehatan, Mematuhi Instruksi, Himbauan, dan Protokol yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, termasuk tidak keluar rumah dan jaga jarak aman (Physical Distancing) agar tercapai kemaslahatan bersama, serta Memperbanyak Doa dan Amaliyah sebagaimana instruksi PBNU serta memohon pertolongan kepada Allah SWT semoga pandemi Covid-19 bisa diatasi dengan segera

NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Peringati Hari Pahlawan Dengan Upacara Dan Istighatsah

NU Online Ponorogo – Peringatan Hari Pahlawan di masa Pandemi Covid-19 memang sedikit berbeda dibanding tahun sebelumnya. Biasanya, hampir semua institusi pemerintah dan lembaga pendidikan melaksanakan upacara bendera. Dari pantauan NU Online Ponorogo, hanya beberapa titik saja yang tetap melaksanakan. Salah satunya Pesantren Mahasiswa Al Mutawakkil, Singosaren, Ponorogo.

Upacara bendera di pesantren asuhan Kyai Sunartip Fadlan, Selasa (10/11) kemarin, terbilang unik. Kegiatan digelar di tengah perkebunan bunga matahari di komplek pesantren. Usai melaksanakan upacara bendera, Kyai Sunartip langsung mengajak seluruh peserta upacara untuk munajat bersama dalam bentuk istighotsah sebagaimana tradisi nahdliyin. “Kita berdoa memohon kepada Allah untuk keselamatan dan kemuliaan rakyat maupun pejabat dari tingkat RT, RW, desa sampai presiden dan wakil presiden,” kata Kyai Sunartip.

Saat menjadi pembina upacara, Kyai Sunartip yang juga A’wan PCNU Ponorogo mengingatkan para santri untuk memaknai ulang Hari Pahlawan. “Hari pahlawan ini momentum kita semua untuk mempersembahkan pengabdian terbaik bagi agama, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan segenap harta benda, energi, pikiran, bahkan jiwa-raga kita. Dengan tetap meletakkan kesantunan sebagai orang timur, gigih, ulet dan penuh inovasi yang,” pesannya.

Meski tidak bisa melaksanakan upacara bendera karena Pandemi Covid-19, Hari Pahlawan yang menandai peristiwa 10 Nopember 1945 tetap merupakan momentum penting. Seperti disampaikan Kepala MTs As Salam Sooko Siti Kholifah. “Nilai kepahlawanan jauh lebih penting diresapi bersama untuk diaktualisasikan dalam kehidupan melalui semangat hubbul wathon minal iman. Nilai kepahlawawan perlu diwujudkan dalam perilaku kehidupan masa kini dan masa depan yang dilandasi ruh dan karakter pendidikan,” terangnya.

Senada dengan Kholifah, Marsono Kepala MI Ma’arif 1 Babadan menuturkan, “Hari Pahlawan adalah momen terpenting dalam menumbuhkan nilai pendidikan yang digali dari kepahlawanan yang harus ditanamkan di setiap benak, pikiran dan hati setiap generasi”.

Salah satu nilai kepahlawanan, menurut Kepala Sekolah SD Ma’arif Fajar Pambudi, adalah keikhlasan dalam membela bangsa. “Nilai keikhlasan yang ditunjukkan para pahlawan bangsa sudah semestinya ditunjukkan dalam semua tatanan kehidupan. Baik di bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, ekonomi dan pendidikan,” tuturnya.

Nilai keikhlasan yang dipetik dari nilai kepahlawan seperti disinggung Fajar Pambudi, dalam pandangan H.M. Asududdin Luqman Ketua LP Maarif NU Ponorogo, perlu diresapi kalangan pendidik. “Nilai kepahlawan pada seorang pendidik berarti melakukan segala aktifitas positif dengan penuh keikhlasan dalam memerangi kebodohan. Pengetahuan dan kemampuan yang memberantas kebodohan tetap harus menjunjung tinggi akhlak yang baik,” katanya.

Nilai keikhlasan yang ditunjukkan Pahlawan menurut Gus Subhan Fathul Alam Ketua Yayasan Ponpes Ainul Ulum didorong oleh kuatnya keinginan untuk memberi manfaat kepada sesama. “Pahlawan adalah orang yang selalu memikirkan kemanfaatan untuk orang lain yang rela berkorban nyawa untuk negara,” ujarnya.

Ketua PC Pergunu Ponorogo Muhtar Wahid mengajak para pendidik untuk mengenang jasa Pahlawan dengan melakukan aksi nyata. Ia menegaskan, “Bagi seorang guru, jadilah generasi yg memberikan kontribusi bagi bangsa dengan meningkatkan karya dan prestasi di dunia pendidikan,” tandasnya.

Wakil Sekretaris PCNU Ponorogo Taufik Azhari menambahkan, Hari Pahlawan di masa Pandemi Covid-19 sebaiknya dijadikan momentum untuk introspeksi. “Di masa pandemi Covid-19 ini tidak adanya upacara hari Pahlawan merupakan kesempatan kita harus lebih mawas diri terhadap pribadi, keluarga,sahabat, lingkungan dan masyarakat. Ini sebuah pembelajaran yang begitu tinggi khususnya di dunia pendidikan kita,” kata Dia.

 

Reporter : Idam

Editor : Lege

Informasi terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *