NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Spiritualitas Kaderisasi: Kisah Mbah Romazin Ditolong Mbah Hasyim

Foto Mbah Hasyim, (sumber: wikipedia)

Sebuah kisah yang menggugah hati didapatkan redaksi, Kamis (20/11). Cerita itu disampaikan Drs. H. Fatchul Aziz, M.A., Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur, melalui sambungan WhatsApp. Mantan Ketua PCNU Ponorogo periode 2014–2024 itu mendapatkannya dari Sekretaris PWNU Jawa Timur, Ir. H. Moh. Faqih, Ph.D., yang menuturkan kembali pengalaman KH. Ali Mashar, salah satu instruktur PD PKPNU.

Kisah ini terjadi saat Pelatihan Dasar PD PKPNU Klarangan, Sidoagung, Tempuran, Magelang, 16 November 2025. Salah satu peserta yang menarik perhatian adalah Mbah Romazin, seorang sepuh dari Dusun Kemutuk. Baru pulang dari perantauan, ia tiba-tiba diberi amanah menjadi ketua takmir musala di kampungnya. Merasa belum memahami NU, ia memutuskan untuk ikut PD PKPNU sebagai bentuk tanggung jawab dan ikhtiar belajar.

Dengan berbekal semangat, ia berangkat menuju lokasi pelatihan menggunakan sepeda, diantar oleh sang istri. Namun perjalanan itu tidak mulus. Di tengah jalan, Mbah Romazin mengalami kecelakaan tunggal dan terjatuh ke selokan. Dalam kondisi lemah, muncul seorang lelaki yang menolongnya dan bertanya hendak ke mana ia pergi.

“Ajeng nderek PD NU (PD PKPNU, Red), niku (akan ikut PD PKPNU, itu)’,” jawab Mbah Romazin.

Penolong itu menepuk pundaknya sembari member dorongan semangat. “Sae pun niku… teraske, teraske (bagus itu, teruskan, teruskan).” kata si penolong. Kalimat sederhana inilah yang memperkuat langkah Mbah Romazin untuk tetap mengikuti pelatihan hingga tuntas.

Puncak kisah terjadi pada hari terakhir kegiatan, ketika peserta menjalani rihlah. Mbah Romazin mendapat tugas ke Dusun Pletukan dan lebih dulu sowan kepada Mustamid, Ketua Tanfidziyah Ranting NU setempat. Saat memasuki ruang tamu, langkahnya mendadak terhenti. Matanya terpaku pada sebuah foto besar Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy‘ari yang terpajang di dinding.

Tubuhnya melemas. Rekan-rekannya panik dan bertanya, “Enten nopo, Mbah? Enten nopo? _(ada apa, mbah? Ada apa?).” tanya salah satu anggota kelompok rihlah. Dengan suara bergetar, mbah Romazin menjawab pertanyaan itu yang membuat semua yang hadir merinding.

“Niku… seng teng foto niku… seng nulungi kulo pas tiba saking sepeda winggi… (Itu… yang di foto itu… yang menolong saya ketika saya jatuh dari sepeda kemarin…).

Ruangan seketika hening. Sebuah pengalaman spiritual yang tak mungkin ia lupakan, dan sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Menurut KH. Ali Mashar, cerita Mbah Romazin bertemu Hadratussyaih menjadi pengingat bagi para instruktur dan pengurus NU bahwa kaderisasi bukan hanya proses belajar, tetapi juga perjalanan ruhani yang sering diiringi pertolongan Allah dengan cara yang tak terduga.

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *