Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PONOROGO mengimbau kepada Nahdliyin untuk senantiasa Menjaga Kesehatan, Mematuhi Instruksi, Himbauan, dan Protokol yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, termasuk tidak keluar rumah dan jaga jarak aman (Physical Distancing) agar tercapai kemaslahatan bersama, serta Memperbanyak Doa dan Amaliyah sebagaimana instruksi PBNU serta memohon pertolongan kepada Allah SWT semoga pandemi Covid-19 bisa diatasi dengan segera

NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

Belajar Dari Perusahaan Besar, LPP PCNU Ingin Kepastian Harga Paska Panen

Bendahara LPP PCNU Ponorogo, Jhoni Setiawan, sedang mengikuti panen raya jagung di Kecamatan Jetis, Ponorogo, Senin (16/11)

NU Online Ponorogo – Inpirasi pengembangan usaha pertanian bisa datang dari mana saja, salah satunya dari perusahaan besar yang bergerak di sektor pertanian. Belakangan, perusahaan-perusahaan itu mulai mengembangkan pola pengelolaan pertanian yang layak dijadikan acuan bagi para pegiat pertanian. “Kita bisa belajar pengelolaan pertanian dengan model seperti yang mereka (perusahaan pertanian, Red) kembangkan,” kata Jhoni Setiawan, Bendahara Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) PCNU Ponorogo.

Saat ditemui NU Online Ponorogo, Jhoni bersama Ketua LPP PCNU Ponorogo, Ahmad Sarbini, sedang mengikuti panen raya jagung di Kecamatan Jetis, Ponorogo, Senin (16/11). Sejak 2018, kata Jhoni, dia menjadi koordinator penanaman bibit jagung produk salah satu perusahaan. Di tahun ketiga ini, luasan garapannya mencapai 311 hektar sawah yang digarap 1.300 petani jagung. “Petani pembenih yang barusan panen sangat puas dengan sistem yang dibagun oleh perusahaan penyokongnya,” ungkap Jhoni.

Menurut penuturan Jhoni, para petani mengaku puas. Pasalnya, pihak perusahaan bisa memberikan kepastian harga paska panen. Padahal, kepastian paska panen inilah yang seringkali dikeluhkan para petani. “Petani lebih semangat karena ada kejelasan harga pascapanen. Dan itu disepakati sejak pertama kali mereka teken kontrak dengan perusahaan di awal masa tanam,” imbuh pria yang pernah menjabat Ketua LPP PCNU periode 2014-2019 ini.

Selain kepastian harga, lanjutnya, para petani juga mendapat benih gratis dan obat gratis. Selain itu, petani juga difasilitasi modal pinjaman yang tidak berbunga. “Pinjaman modal diberikan perusahaan untuk biaya operasional petani sejak masa pra tanam hingga paskapanen,” pungkas Jhoni.

Sementara itu, Ahmad mengakui bahwa model kerja sama seperti yang dikembangkan perusahaan besar tersebut memang sangat diminati petani. Terutama dalam hal memberikan kepastian harga paska panen. Sayangnya, LPP PCNU Ponorogo sampai hari ini belum bisa merealisasikan keinginan para petani itu. “Memang benar, selama ini kita (Pengurus LPP PCNU, Red) kesulitan menarik minat petani untuk didampingi, karena mereka belum mendapatkan kepastian harga paska panen,” aku Ahmad.

Menanggapi hal ini, Jhoni optimis bahwa LPP PCNU Ponorogo masih bisa mengambil peran untuk mengembangkan sektor pertanian. Khususnya pembenihan selain jagung. “Sebenarnya peluangnya masih cukup besar. Barangkali yang bisa dilakukan LPP PCNU adalah menyambungkan dengan perusahaan pembenih tanaman yang mau menjamin kepastian harga paska panen,” kata Jhoni yang diamini Sarbini.

 

Reporter : Idam

Editor : Lege

Informasi terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *