NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

LPBI NU Ajak Antisipasiasi Tsunami Lebih Dini

Novi Tri Hartanto, bersama LPBI NU Ponorogo saat mengikuti Jambore
Novi Tri Hartanto, bersama LPBI NU Ponorogo saat mengikuti Jambore

NU Online Ponorogo – Fenomena alam yang terjadi hampir tiap akhir tahun menjadi momok tersendiri bagi masyarakat. Terlebih masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan juga pesisir pantai selalu menjadi korban . Pasalnya, musim penghujan dengan intensitas tinggi sering terjadi di bulan-bulan akhir jelang pergantian tahun.

Tidak hanya masyarakat sekitar perairan yang merasa was-was. Sebaliknya pemerintah juga dituntut harus menyediakan pos anggaran yang lumayan besar untuk penanggulangan korban bencana alam. Lalu, siapa lagi yang trauma dengan bencana alam berupa banjir, tanah longsor, gempa bumi dan erupsi gunung serta tsunami?

Tim relawan kebencanaan dipastikan akan menjadi garda depan dalam menangani korban jiwa.
Meski belum pasti terjadi, langkah antisipasi sudah dilakukan Lembaga Penanggulangan Bencana dan perubahan Iklim NU (LPBI NU) Ponorogo.

Hal ini didasarkan hasil Jambore bersama Forum Peduli Resiko Bencana ( FPRB) Jatim, yang memperkirakan bakal terjadi Tsunami di pesisir pantai selatan. Tentu dampaknya bisa dirasakan masyarakat Ponorogo. Betapapun, Ponorogo- Pacitan sangatlah dekat, maka tidaklah berlebihan mereka juga akan terdampak.

Novi Tri Hartanto, Ketua LPBI NU Ponorogo mengatakan, dalam Jambore kemarin juga dibahas isu bencana Tsunami yang sangat mungkin terjadi di daerah pesisir selatan. “Dalam forum itu kami juga membahas hasil penelitian dari BMKG terkait dengan pergerakan lempeng tektonik Indo- Australia dan Eurasia” tandasnya.

Pergerakan tersebut menurut Novi bisa menimbulkan gempa dengan potensi magnitudo maksimum gempa megathrust selatan Jawa Timur hingga 8,7 SR. Karenanya, nilai magnitudo gempa ini juga dijadikan kajian tim BMKG sebagai inputan permodelan Tsunami untuk wilayah Pacitan.

Perbincangan soal ini berawal dari pernyataan BMKG Dwikora Karnawati yang mengatakan pesisir pantai Pacitan memiliki potensi Tsunami setinggi 28 meter dengan estimasi waktu tiba sekitar 29 menit. Adapun tinggi genangan di darat berkisar antara 15-16 meter dengan potensi jarak genangan mencapai 4-6 kilometer dari bibir pantai,” kata Dwikorita.

Hal senada juga disampaikan Daryono Soendaryo Kepala BMKG, yang mewanti-wanti masyarakat Pacitan Jawa Timur terkait potensi tsunami. Bukan menakut-nakuti, Dwikora menekankan bahwa bencana Tsunami ini masih bersifat potensi. Artinya, bisa saja terjadi atau bahkan tidak terjadi. Meski begitu, masyarakat dan pemerintah daerah harus sudah siap dengan skenario ini.

Reporter: Andika
Editor: Budi

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PONOROGO mengimbau kepada Nahdliyin untuk senantiasa Menjaga Kesehatan, Mematuhi Instruksi, Himbauan, dan Protokol yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, termasuk tidak keluar rumah dan jaga jarak aman (Physical Distancing) agar tercapai kemaslahatan bersama, serta Memperbanyak Doa dan Amaliyah sebagaimana instruksi PBNU serta memohon pertolongan kepada Allah SWT semoga pandemi Covid-19 bisa diatasi dengan segera