
NU Online Ponorogo — Masjid tidak hanya berfungsi sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai pusat pelayanan sosial dan penguatan keumatan. Semangat tersebut tercermin dalam rangkaian kegiatan yang digelar Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PCNU Ponorogo bersama jamaah dalam pengajian rutin selapanan (35 hari) setiap Ahad Pon.
Dalam kegiatan tersebut, LDNU PCNU Ponorogo menjalankan program layanan sosial berupa pembagian sekitar seribu butir telur rebus dan minuman gratis kepada jamaah. Program ini ditujukan untuk mendukung pemenuhan gizi dan kesehatan masyarakat, sekaligus memperkuat peran masjid dalam menjawab kebutuhan dasar jamaah.
Selain layanan sosial, LDNU PCNU Ponorogo juga membuka fasilitasi pendaftaran haji. Jamaah dapat mendaftar melalui layanan yang disediakan LDNU atau menghubungi nomor resmi panitia. Pendaftaran dapat dilakukan melalui Bank BSI dengan setoran awal Rp1 juta, cukup membawa KTP dan Kartu Keluarga. Jamaah juga diperkenankan mendaftarkan satu orang mahram atau anggota keluarga sebagai pendamping.

Pengajian selapanan tersebut diisi oleh KH Luqman Haris, Pengasuh Pondok Pesantren Tremas, Pacitan. Dalam tausiyahnya, KH Luqman Haris mengajak jamaah memahami makna rahmat Allah dengan menekankan perbedaan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim, serta kaitannya dengan Rasulullah Muhammad SAW sebagai rahmatan lil ‘alamin. Ia menjelaskan bahwa sifat Ar-Rahman merupakan kasih sayang Allah yang meliputi seluruh makhluk tanpa kecuali, sementara Ar-Rahim adalah kasih sayang khusus yang dianugerahkan kepada orang-orang beriman. Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, kaum muslimin memperoleh kedua bentuk rahmat tersebut sekaligus. Jamaah juga diingatkan tentang kedudukan Rasulullah SAW sebagai nabi terakhir yang diutus untuk seluruh alam, yang kelak diberi kemuliaan berupa syafa’at di hari akhir sebagai pengharapan bagi umatnya. Dalam kehidupan sehari-hari, KH Luqman Haris menekankan pentingnya memperbanyak istighfar sebagai upaya membersihkan diri dari dosa, serta memperbanyak sholawat sebagai wujud rasa syukur dan kecintaan karena telah dijadikan umat Nabi Muhammad SAW.
Ketua PCNU Ponorogo, Dr. Idham Mustofa, M.Pd., dalam sambutannya melontarkan kelakar yang disambut riuh jamaah. Ia menyebut pengajian Ahad Pon sebagai “pengajian komplit, mirip posyandu.” Menurutnya, jamaah tidak hanya mendapatkan asupan rohani melalui pengajian, tetapi juga perhatian pada kesehatan jasmani.

“Kalau posyandu melayani ibu dan balita, Ahad Pon ini melayani umat,” ujarnya. Selain penguatan spiritual, jamaah juga memperoleh layanan kesehatan gratis yang didukung RSU Muslimat, pembagian telur rebus sebagai tambahan gizi, serta rencana penambahan susu dari donatur. “Biar benar-benar jadi pengajian sehat,” kata Idham, kembali disambut tawa dan tepuk tangan jamaah.
Pengajian selapanan ini dipahami tidak sekadar sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai sarana memperluas perspektif keilmuan, membangun kesadaran sosial, serta meneguhkan iman di tengah dinamika kehidupan.

Pengurus LDNU PCNU Ponorogo menegaskan bahwa integrasi antara dakwah dan layanan sosial merupakan ikhtiar menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat yang utuh—menyentuh aspek spiritual, sosial, dan kemanusiaan.
Melalui kegiatan ini, masjid diharapkan terus hadir sebagai ruang ibadah, pelayanan sosial, serta penguatan nilai-nilai Islam yang membawa rahmat bagi seluruh masyarakat.
Kontributor: Nanang Diyanto / LKNU Ponorogo