NU PONOROGO

Official Website PCNU Ponorogo

NU Ranting Tumpuk Dapat Penghargaan

Ketua NU Ranting Tumpuk menerima penghargaan dari PCNU Ponorogo, Selasa (31/8)
Ketua NU Ranting Tumpuk menerima penghargaan dari PCNU Ponorogo, Selasa (31/8). Penghargaan diberikan Wakil Sekretaris PCNU Taufik Azhari kepada Ketua PRNU Tumpuk Imam Sulardi

NU Online Ponorogo – Warga NU Desa Tumpuk, Kecamatan Sawoo, boleh berbangga. Pasalnya, NU Ranting Tumpuk baru saja mendapat penghargaan sebagai ranting NU dengan perolehan pendataan Kartanu tertinggi se-Kabupaten Ponorogo.

Alhamdulillah, saya tidak menyangka bakal dapat penghargaan. Semoga ini bisa menambah semangat kami untuk lebih giat lagi mensukseskan program Kartanu,” tutur Imam Sulardi, Ketua Pengurus Ranting NU (PRNU) Desa Tumpuk kepada NU Online Ponorogo usai menerima sertifikat penghargaan.

Atas prestasinya ini, PCNU Ponorogo memberikan penghargaan berupa sertifikat. Prosesi penyerahan sertifikat diberikan Wakil Sekretaris PCNU Ponorogo Taufik Azhari kepada Ketua PRNU Desa Tumpuk, disaksikan puluhan pengurus dan kader NU dan banomnya. Berbarengan dengan acara Upacara Penurunan Bendera Merah Putih yang digelar di puncak Bukit Jati, Desa Tumpuk, Kecamatan Sawoo, Selasa (31/8).

Berdasarkan data yang terhimpun di Tim Kartanu PCNU Ponorogo, NU Ranting Tumpuk sudah menyetor 1.278 nama. Jauh melesat meninggalkan ranting lainnya yang baru mencapai angka sekitar 600.

Dalam melakukan pendataan Kartanu, Imam mengaku tidak ada kendala sama sekali. Pasalnya, selain sebagai ketua ranting, dirinya juga menjabat sebagai Kepala Desa. Untuk sosialisasi, katanya, dilakukan dengan cara menghadirkan Ketua RT dan Ketua Takmir masjid/mushalla se-Desa Tumpuk. Di saat itu juga, mereka langsung disodori formulir pendataan.

“Saya kan kepala desa. Jadi saya tinggal perintahkan warga untuk ikut mendaftar Kartanu. Tapi sifatnya tidak memaksa,” tegas Imam.

Sekretaris MWCNU Sawoo sekaligus Koordiantor Tim Kartanu Kecamatan Sawoo, Edi Suryono, juga turut mengapresiasi semangat dan kerja keras dari ketua ranting. “Mbah Lurah (panggilan Imam Sulardi, Red) memang luar biasa. Sosialisasinya langsung ke RT, juga ke takmir masjid dan mushalla. Dan kebetulan, semangat Mbah Lurah ini diback up sepenuhnya oleh Tim Kartanu dari MWC,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris PCNU Ponorogo, Dr. H. Luthfi Hadi Aminuddin M.Ag, mengatakan bahwa capaian NU Ranting Tumpuk patut diapresiasi. Karena itu, PCNU Ponorogo secara khusus memberikan penghargaan atas kerja keras ini. “Harapannya agar MWC dan ranting lainnya bisa meniru gerakan MWC Sawoo, khususnya Ranting Tumpuk, bagaimana pengurus bisa menggerakkan jamaah untuk mensukeskan sensus warga NU ini,” kata Luthfi.

Lutfhi kembali menegaskan pentingnya melakukan sensus warga NU melalui aplikasi Kartanu ini. Karena hasil sensus ini merupakan database yang nantinya menjadi pijakan bagi PCNU untuk membuat kebijakan organisasi. PCNU sendiri mentargetkan proses pendataan ini bisa selesai sebelum akhir Oktober 2021. Untuk itu, Tim Kartanu PCNU Ponorogo terus melakukan monitoring serta pendampingan.

Sekedar catatan, dari 21 MWCNU yang ada di Ponorogo, data yang masuk per 1 September 2021 baru 7.923. Separo lebih data yang masuk merupakan kiriman dari MWCNU Sawoo dengan perolehan 4.150 orang. Menyusul di bawahnya 804 dari Jambon, 523 dari Bungkal, 459 dari Pulung dan 313 dari Sambit. Sementara 5 urutan dari bawah adalah Pudak (15), Ngrayun (21), Sokoo (22), Mlarak (22), dan Kauman (35).

 

Reporter/Editor : Lege

Informasi terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PONOROGO mengimbau kepada Nahdliyin untuk senantiasa Menjaga Kesehatan, Mematuhi Instruksi, Himbauan, dan Protokol yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, termasuk tidak keluar rumah dan jaga jarak aman (Physical Distancing) agar tercapai kemaslahatan bersama, serta Memperbanyak Doa dan Amaliyah sebagaimana instruksi PBNU serta memohon pertolongan kepada Allah SWT semoga pandemi Covid-19 bisa diatasi dengan segera