
NU Online Ponorogo — Kawasan wisata religi Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, ramai dikunjungi peziarah menjelang hingga setelah puncak peringatan Hari Santri 2026. Sejak pertengahan Oktober hingga Ahad (25/10), rombongan peziarah dari berbagai wilayah berdatangan ke kompleks Masjid Jami’ Tegalsari dan makam KH. Ageng Muhammad Besari.
Bus besar, bus kecil, kereta mini, hingga mobil pribadi tampak silih berganti mengantarkan rombongan peziarah ke kawasan bersejarah tersebut. Meningkatnya kunjungan ini menunjukkan bahwa Tegalsari masih menjadi salah satu tujuan wisata religi yang diminati masyarakat, terutama pada momentum peringatan Hari Santri.
Adi, peziarah asal Kecamatan Jambon, mengatakan bahwa momentum Hari Santri dimanfaatkan bersama rombongannya untuk melakukan napak tilas sejarah sekaligus berziarah ke makam para ulama di Ponorogo.

“Kebetulan saya bersama rombongan, ya mumpung ada acara Hari Santri kita gunakan napak tilas sekaligus berziarah ke makam para alim ulama Ponorogo, salah satunya di Tegalsari, Simbah Kyai Ageng Muhammad Besari,” ungkapnya.
Sementara itu, Kiki, warga Tegalsari, turut mengantarkan saudaranya yang datang untuk berziarah. Ia sekaligus mengenalkan sejumlah lokasi bersejarah yang berkaitan dengan perjalanan dakwah dan pendidikan Islam di kawasan tersebut.
“Kebetulan saya juga bertemu saudara yang katanya mau ke Tegalsari untuk ziarah. Ya, saya antarkan ke beberapa lokasi yang sarat akan sejarah, seperti masjid, makam, dan Ndalem Kyai Ageng Muhammad Besari, jejak perjalanan santri Tegalsari dahulu,” ujarnya.

Tegalsari memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan pendidikan Islam dan tradisi pesantren di Jawa. Jejak keilmuan yang berkembang di kawasan ini berkaitan dengan perjalanan panjang pendidikan Islam serta jaringan ulama dan pesantren di berbagai daerah.
Sejumlah pesantren yang menjadi bagian penting dalam sejarah pendidikan Islam di Jawa antara lain Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Pondok Tremas di Pacitan, Pondok Pesantren Al-Falah Ploso dan Lirboyo di Kediri, serta Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang. Keberadaan pesantren-pesantren tersebut memperlihatkan panjangnya tradisi pendidikan Islam yang tumbuh dan berkembang di Jawa.
Ramainya kunjungan pada momentum Hari Santri menjadikan Tegalsari bukan hanya sebagai tempat berdoa dan berziarah, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran sejarah bagi masyarakat. Melalui kunjungan tersebut, generasi muda diharapkan semakin mengenal perjuangan para ulama serta memahami pentingnya menjaga tradisi keilmuan pesantren.
Momentum Hari Santri 2026 pun menjadi kesempatan untuk memperkuat kecintaan terhadap sejarah Islam Nusantara sekaligus merawat warisan keagamaan yang telah diwariskan para ulama kepada generasi penerus.
Kontributor: Kaelfykrie